Oleh : Raifa Tryas Shara
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”, begitulah kalimat yang sempat diutarakannya, kalimat ini amat terkenal di kalangan masyarakat terutama masyarakat Muhammadiyah. Kalimat tersebut menegaskan bahwa berjuang di Muhammadiyah untuk umat tidaklah sekadar mengharap balasan keringat berupa helaian Rupiah karena Muhammadiyah tak pernah berorientasi membuat para pengurusnya kaya akan harta, tetapi Muhammadiyah mengajarkan kekayaan hati untuk meningkatkan kebermanfaatan pada umat yang diharapkan mampu mencapai kekayaan vertikal yang hakiki yaitu ridho-Nya. Cara berpikir beliau memang unik dan kritis, tak heran jika pandangannya mengenai pembaharuan Islam menjadikannya sebagai Pahlawan Nasional.
Tentang sore itu, di beranda masjid yang tengah usai mengumandangkan Azan Magrib. Saat tengah mengikuti kegiatan ifthar (buka puasa) bersama para mahasiswa Universiti Malaysia Pahang, sempat memulai perbincangan dengan salah satu mahasiswi semester akhir yang akan wisuda tahun ini, sampai kepada titik pengutaraan asal Universitas Ahmad Dahlan, ia tertegun sembari menegaskan bahwa Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah, tentang beliau yang bertindak nyata untuk memperbaiki arah kiblat, tentang sesosok Ahmad Dahlan yang menjadi pendiri persyarikatan Muhammadiyah yang apabila ditelaah Muhammadiyah sudah mampu menjadi suatu negara dengan komponen-komponen yang dimiliki, hanya saja Muhammadiyah tetap menjunjung tinggi Pancasila dan selalu bersiaga untuk bergejolak apabila kemurnian Pancasila mulai terkoyak oleh oknum-oknum tertentu.
Tentang sore di lain sisi, saat tengah mengikuti kegiatan belajar di kelas, masih dengan perkara asal universitas. Universitas Ahmad Dahlan.. Pengajar di kelas saat itu seketika berkata “The founder of Muhammadiyah”, serta tentang sore pada ruang lainnya, setelah selesai berdiskusi, dengan pengajar yang sama ia bertanya “Kapan Ahmad Dahlan dilahirkan? You’re from Universitas Ahmad Dahlan, right?”. Ia begitu tertarik mengenai kisah Ahmad Dahlan dan persyarikatan Islam lainnya di Indonesia.
Tentang sore dan sore yang sempat mengingatkan kembali kepada sejarah, tentang sosok pendiri “ayah kandung” dari organisasi pengikrar Fastabiqul Khairat. Sudah selayaknya nama Universitas Ahmad Dahlan dicetak tebal dalam pikiran-pikiran pemuda yang meneriakkan diri sebagai aktivis karena Ahmad Dahlan merupakan pendiri Muhammadiyah, maka Universitas Ahmad Dahlan secara universal harus sesuai dengan cita-cita Muhammadiyah, sebab jika tidak hal itu akan melukai Ahmad Dahlan yang namanya telah terdengar baik di bumi jiran dan mungkin saja masih ada tentang sore lainnya di negeri-negeri jiran atau belahan bumi nan jauh yang mengisahkan tentang sosok pahlawan pemilik nama kecil Muhammad Darwis tersebut.