Ada Apa dengan Pola Makan ala Rasulullah ?

By: Sospem FTI

Rasulullah adalah uswatun khasanah atau suri tauladan yang baik. Tentu saja, label yang demikian bukan tanpa maksud. Di dalam Al Qur’an, Rasulullah adalah rahmat bagi seluruh alam yang dipilih sebagai contoh terbaik dalam segi manapun. Salah satunya adalah dalam pola hidup dan aktivitas sehari-harinya, sehingga Rasulullah Muhammad adalah orang yang paling sehat di dalam sejarah. Hal ini karena pola hidup Rasulullah yang tidak satupun bertentangan dengan pola hidup sehat sesuai dengan yang telah dianjurkan.
Salah satu pola hidup yang dicontohkan Rasulullah adalah mengenai pola makan Rasulullah. Seluruh pola makan Rasulullah diketahui baik untuk kesehatan dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Segala aktivitas Nabi Muhammad dikenal dengan istilah sunnah yang apabila dikerjakan oleh ummat Islam akan mendapatkan pahala. Beberapa pola makan yang dicontohkan oleh Rasulullah adalah sebagai berikut.
Membuka menu sarapan dengan segelas air dingin yang dicampur dengan sesendok madu asli. Dalam Al-Qur’an, madu merupakan syifaa (obat). Hal ini berarti pada dasarnya madu bisa menjadi obat atas berbagai penyakit. Ditinjau dari ilmu kesehatan, madu berfungsi untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus, dan menyembuhkan sembelit. Selain itu, madu juga mengandung mikronutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat diketahui bahwa mengonsumsi madu di pagi hari sebelum sarapan dapat memudahkan pencernaan dan menambah stamina untuk beraktivitas.
Saat masuk waktu dhuha, Rasulullah mengonsumsi 7 butir kurma ajwa’(matang). Rasulullah mengatakan bahwa mengonsumsi 7 kurma dapat menghindarkan diri dari racun. Secara ilmiah, mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil lebih dianjurkan daripada mengonsumsi kurma dalam jumlah genap. Hal ini terjadi karena zat yang terbentuk saat seseorang mengonsumsi kurma dengan jumlah ganjil dan genap berbeda.
Menjelang sore hari, Rasulullah mengonsumsi minyak zaitun dengan roti. Manfaatnya adalah untuk mencegah kepikunan, lemah tulang, menghancurkan kolestrol, dan melancarkan pencernaan. Roti yang dicampur minyak zaitun juga berfungsi untuk mencegah kanker dan menjaga suhu tubuh di musim dingin
Ketika makan malam, Rasulullah mengonsumsi sayur-sayuran. Sayur-sayuran mengandung berbagai vitamin, mineral, dan serat yang diperlukan dalam proses metabolisme tubuh. Sayuran juga berfungsi melindungi tubuh dari berbagai serangan penyakit.
Rasulullah tidak menganjurkan ummatnya untuk langsung tidur selepas makan. Secara ilmiah, ketika makanan yang dikonsumsi tidak digunakan untuk beraktivitas dan langsung digunakan untuk tidur, maka makanan yang dikonsumsi akan diubah sebagai lemak dan tidak diubah menjadi energi.
Ketika berbuka puasa, Rasulullah selalu mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil terlebih dahulu. Ketika puasa, tubuh tidak mendapat asupan nutrisi yang dapat digunakan sebagai sumber energi sehingga makanan yang pertama kali dianjurkan untuk dikonsumsi adalah makanan manis. Hal ini dikarenakan tubuh akan lebih dahulu mencerna makanan yang mengandung gula untuk diubah menjadi energi.
Rasulullah juga memerintahkan agar berhenti makan sebelum kenyang. Secara ilmiah, otak cepat menerima sinyal lapar. Akan tetapi, otak lambat dalam menerima sinyal kenyang. Sehingga dapat dikatakan bahwa ketika belum merasa kenyang pun kebutuhan nutrisi tubuh sudah terpenuhi. Ketika berlebih-lebihan, hal ini dapat menyebabkan kantuk dan tidak baik untuk kesehatan.
Sebagai ummat Islam, hendaknya seorang muslim juga mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah dengan melaksanakan pola hidup seperti Rasulullah. Dengan demikian, penyakit-penyakit yang disebabkan karena pola hidup yang tidak sehat dapat dihindari dan juga merupakan usaha preventif untuk mencegah penyakit-penyakit yang mudah menyerang tubuh manusia karena pola hidup yang tidak sehat.

“FIGUR IMM DALAM BINGKAI GERAKAN INTELEKTUAL MUSLIM”

Oleh: Rizal Syaefudin

IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) sebagai Organisasi mahasiswa yang benafaskan Islam dan berjiwa pembaharu atau  kalau di muhammadiyah sendiri kita mengenal dengan istilah reformis – modernis sudah semestinya kita menjadi garda terdepan terhadap pembaharuan maka dari itu nalar kritis di sini sangat di perlukan. Akan tetapi hal tersebut seolah berabanding terbalik dengan realita yang terjadi sudah tidak di pungkiri lagi banyak kader yang terlena akan kenyamanan dan kecanggihan teknologi sehingga budaya diskusi dan gerakan membaca sudah mulai memudar. Apalagi kalau melihat pada tujuan kita sebagai seorang  “akademisi islam” tentunya hal tersebut tidak akan lepas dari yang namanya literasi akan tumpul nalar berfikir ketika hal tersebut mulai menghilang.

Selain mulai hilangnya budaya literasi sebagai basis penguatan nalar kritis , hal tersebut juga dipengaruhi oleh mulai lunturnya kesadaran Kolektif dalam tubuh pimpinan.  Hal yang paling menarik  di tubuh IMM adalah masih berkaitan dengan suksesi kepengurusan, bukan lagi kepemimpinan. Menduduki pucuk kepengurusan yang paling tinggi dianggap keberhasilan dari proses perkaderan dan regenerasi kepengurusan. Orientasi pada Struktural yang lebih tinggi ini, menjadi penyebab pudarnya kesadaran kolektif untuk membangung gerakan IMM secara lebih radikal dan progresif. Pilihan memimpin jenjang kepengurusan yang lebih tinggi masih di asumsikan dapat menciptakan perubahan besar. Meski, pada akhirnya tidak mampu memformat bentuk gerakan yang di asumsikan, bahkan cenderung menyebabkan permasalahan internal dalam kepengurusan.[1] Tak bisa di pungkiri, konflik internal yang terjadi di tubuh IMM lagi – lagi persoalan jabatan sehingga menyebabkan keringnya perjuangan dalam tubuh IMM sendiri karena haus akan kekuasaan sehingga nalar kritis mereka terhadap pengembangan gerakan mulai terkikis. Muncullah perspektif yang selalu bersebrangan antar kader, bukan dalam wilayah pemikiran ide atau gagasan, cara pandang itu dimulai karena kalah dalam perebutan kekuasaan. Ada beberapa pihak yang menganggap bahwa ketika menduduki struktural yang lebih tinggi menjadi sebuah prestasi dan kebanggaan akan tetapi hal tersebut justru menjadi salah satu faktor merosotnya bahkan mulai tumpulnya kita dalam segi pemikiran ide atau gagasan ketika sudah terlena dengan tampuk kepemimpinan yang sudah di raih. Akhirnya IMM sendiri terbelenggu dalam jurang kekuasaan, hingga lupa dengan persoalan – persoalan sosial yang terjadi di sekitar kita. Padahal mengenai permasalahan atau fenomena yang terjadi di masyaraka hal tersebutlah yang perlu di beri ruang besar untuk di kritisi dan di berikan solusi. Karena seperti yang pernah di sampaikan mengutip dari kata – kata Mohammad Djazman Alkindi  “Perubahan – perubahan yang terjadi di masyarakat sejak IMM berdiri sampai sekarang, sebenarnya dapat menjadi peluang bagi setiap Organisasi apa saja, untuk menempatkan diri secara layak di tengah – tengah arus perubahan itu. Tapi ironiknya, perubahan sering dipandang sebagai gugatan, dan yang sering muncul adalah reaksi dan defense mechanism yang menguras energi, disamping konflik intern yang ditimbulkan oleh perbedaan interpretasi mengenai esensi perubahan itu.”

Dari pernyataan Mohammad Djazman Alkindi di atas membuktikan bahwa IMM harus mulai berfikir keluar jangan terlalu di sibukan dengan permasalahan – permasalahan internal saja itulah yang menjadi salah satu pengambat mandek/Berhentinya kita memunculkan gagasan – gagasan yang dapat membangun IMM ke arah yang lebih baik. Maka di sini IMM harus benar – benar memegang teguh identitasnya sesuai dengan tujuanya yaitu akademisi islam yang berakhlak mulia, maka sudah menjadi sebuah tuntutan bahwa kader – kader IMM memang harus menebar manfaat sesuai dengan Trikompetensinya terutama dalam hal intelektualitas.

Abdul Halim sani yang menggagas penggagas manifesto gerakan intelektual Profetik memberikan penjelasan intelektual lebih kepada sosok cendekiawan yang di artikan olehnya merupakan pekerja budaya yang selalu berusaha agar kebudayaan berkembang menjadi sesuatu sesuatu yang lebih beradab berdasarkan tuntutan zaman berdasarkan nilai – nilai ilahiah.[2] Maka dari hal tersebut dapat menjadi sebuah rumusan mengenai gerakan Intelektual muslim atau Cendekiawan Ikatan yang berpribadi yang memiliki akhlak mulia sebagai identitas gerakan dengan memadukan  sisi religiuitas (keagamaan) dan intelektualitas (Kemahasiswaan/Keilmuan) yang kemudian di implementasikan kepada nilai Humanitas (kemasyarakatan). Hal tersebutlah yang menjadikan alasan mengapa sebenarnya trilogi dan trikompetensi tidak dapat di pahami secara parsial atau terbagi – bagi, karena justru akan menyebabkan kehilangan identitas bagi IMM itu sendiri.

Persoalan yang paling mendasar dalam tubuh ikatan ini adalah bagaimana membawa intelektualitas ini menjadi ini menjadi sebuah semangat atau spirit berfikir kritis, menciptakan kesadaran bersama dan menggerakan semua unsur dalam setiap elemen ikatan menjadi sebuah gerakan yang khas, letak persoalanya bukanlah dimana pada darimana asal kata “intelektual” itu berasal melainkan sejauhmana intelektual ini memberikan peran yang sangat bermanfaat bagi kita.[3]

Gagasan mengenai gerakan intelektual memiliki banyak sekali kiblat terutama di sebabkan karena makna yang sangat variatif dari intelektual bila di terjemahkan. Salah satunya dari ali syari’ati mengenai Rausyanfikr asal kata dari bahasa persia yang di maknai “pemikir yang tercerahkan”[4] dalam al-qur’an sendiri kita mengenal Istilah Ulil albab sebagai “Orang – orang yang berakal” atau “Orang – orang yang mempunyai pikiran”.

Dari hal tersebut membuktikan bahwa memang segi intelektual sangat penting sebagai basis penguatan nalar kritis pada diri kader. Walaupun memang sesuai dengan pernyataan sebelumnya bahwa Trilogi dan trikompetensi tidak bisa di pahami secara parsial harus menyeluruh untuk ketiganya, namun justru hal tersebutlah membuktikan bahwa sisi intelektual tidak boleh hilang ataupun memudar. Kita sering mendengar IMM sebagai gerakan dakwah dengan GJDJ (Gerakan Jama’ah Dakwah Jama’ah) atau kita sering melihat peran IMM dalam aksi gerakan Sosial kemasyarakatan namun jarang sekali kita menemukan IMM sebagai salah satu basis gerakan Intelektual.

Dalam hidup sendiri kita mengenal yang namanya konsep soleh sosial, dimana soleh kita bukan hanya untuk diri kita tapi juga untuk orang di sekitar. Dalam sebuah hadits nabi dijelaskan mengenai perbedaan antara seorang abid (orang yang banyak ibadah) dan alim (orang yang berilmu). Orang yang abid mungkin hanya soleh untuk dirinya sendiri karena ibadah yang ia lakukan hanya berpengaruh pada dirinya sedangkan orang yang alim (berilmu) kesolehanya dapat membias ke yang lain karena ilmunya disampaikan dan dibagikan terhadap orang disekitarnya. Nah dari kasus ini membuktikan sesuai dengan pemahaman trilogi dan memang di situ peran intelektual atau ilmu sangat penting selain beragama kita juga harus berilmu untuk bisa memberikan Kontribusi ke ranah sosial. Maka di situ jelas sangat membuktikan bahwa memang peran intelektual sangat penting sebagai basis penguat nalar kritis dalam berfikir.

[1] Buku Genealogi Kaum merah: pemikiran dan gerakan hlm 4-5

[2] Sani, Manifesto gerakan Intelektual Profetik hlm. 40

[3] Buku genealogi kaum merah:pemikiran dan gerakan hlm 200

[4] Syari’ati, Ideologi Kaum Intelektual hlm 1

Semarak Milad IMM 54 dalam meningkatkan semangat Berinovasi

Perayaan Milad IMM Ke-54  yang diselenggarakan IMM di Universitas Ahmad Dahlan dimeriahkan dengan  berbagai rangkaian acara. Untuk milad tahun ini bukan hanya acara yang di selenggarakan panitia pusat melainkan masing – masing komisariat melakukan koalisi untuk menyelenggarakan acara.kali ini IMM FTI UAD berkoalisi dengan IMM Komisariat Jpmipa dan menjalin mitra juga dengan BEM FTI Juga Dahlan Inovation Community menyelenggarakan Seminar Nasional bertemakan “Semangat Berinovasi Untuk mewujudkan Karakter Bangsa”. Seminar dilaksanakan pada tanggal 30 maret 2018, bertempat di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan dengan mengundang Prof. Dr. Paulina Pannen M. L. S. dari Kemenristek dikti yang di moderatori oleh IMMawati Ella yussy Dwi Astuti, S.S. Seminar ini di ikuti oleh 128 Mahasiswa UAD Termasuk delegasi IMM tiap Komisariat.

 

Tujuan diadakanya Seminar menurut Ketua Panitia Milad IMM Koalisi Komsisariat FTI dan JPMipa bertujuan untuk meningkatkan semangat mahasiswa/mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan dalam melakukan penelitian atau berinovasi dan dapat di nilai dikti. “Kegiatan ini sangat positif dan dapat membantu meningkatkan semangat berinovasi bagi mahasiswa” demikian kata Fadlur Rahmat Hasan salah satu peserta Seminar Nasional.

Latar belakang diadakanya acara ini sebenarnya adalah selain sebagai rangkaian acara Milad juga muncul karena keresahan yang timbul di kalangan mahasiswa. IMM  sebagai Organisasi Otonom di kalangan mahasiswa , Badan Eksekutif Mahasiswa Sebagai Organisasi Mahasiswa dan Dahlan Inovation Community yang di isi oleh para mahasiswa  sudah seharusnya melaksanakan kegiatan yang memberikan dampak positif bagi perkembangan mahasiswa karena kami sadar inspirator kami adalah tentang keresahan dan apa – apa saja yang dirasakan oleh mahasiswa.

Kalau muhammadiyah pernah mengangkat tema mengenai masyaralat islam yang berkemajuan maka kita sebagai mahasiswa UAD Juga bisa melakukan hal yang sama dengan Mahasiswa Islam yang berekemajuan tentunya dengan inovasi – inovasi yang bisa bermanfaat dan berguna bagi masyarakat bangsa dan negara.

Selamat Milad IMM Ke-54

 

Pelantikan LSO Bumisaba dan OSM

Dalam rangka mengemban amanah dan tugasnya sebagai Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Teknologi Industri memiliki UPP(Unit Pembantu Pimpinan) yaitu Lembaga Semi Otonom Bumi saba(Badan Usaha Milik Ikatan Spirit Of abdurahman bin Auf) dan (Olahraga Seni Mahasiswa Muhammadiyah), yang telah dilantik pada Hari ahad,21 januari 2018 bertempat di Aula Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Dengan di hadiri segenap tamu undangan dari Kader IMM FTI UAD, komsariat IMM se-UAD,korkom IMM UAD, Pimpinan Cabang IMM Djazman Ak-kindi Kota jogja, serta tak lupa pula hadir pembina IMM Bapak Jefree fahana.

Dengan dilantiknya LSO ini merupakan sebuah langkah yang progresif bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Tekologi Industri Terutama sebagai soft power dalam hal Dakwah Komunitas di era globalisasi dan modernisasi yang sangat terbuka terhadap berbagai hal terutama pada bidang seni,budaya,Olahraga juga Ekonomi –kewirausahaan. Dalam geraknya Bumisaba di naungi oleh Bidang Ekonomi dan kewirausahaan, dan  dinaungi oleh Bidang Riset & Pengembangan Keilmuan. Karena memang untuk Komisariat IMM FTI belum memiliki Bidang Seni Budaya dan Olahraga.

“Dalam prospek kerjanya OSM Selain dalam bidang Seni Olahraga juga harus membawa nilai – nilai edukasi di dalamnnya semisal diskusi kebudayaan dan lain sebagainya kemudian bumisaba selain bergerak dalam bidang usaha juga harus membawa ciri khas kalian sebagai mahasiswa teknik munculkanlah sisi sebagai seorang technopreuner.”Demikian kata Bapak jefree fahana Selaku pembina IMM Zona 3 UAD.

Selamat dan sukses atas di lantiknya Pimpinan Lembaga Semi Otonom Bumi saba(Badan Usaha Milik Ikatan Spirit Of abdurahman bin Auf) dan (Olahraga Seni Mahasiswa Muhammadiyah). Semoga dapat Mengemban Tugas dan Amanahnya dengan baik, Amanah tak pernah salah memilih pundak. Serta senantiasa semoga selalu ber fastabiqul khairat “Berlomba – lombalah untuk kebaikan”.

 

Hilmi dengan Perak dan Perunggunya di Kejuaraan Youth Asian Para Games 2017 di Dubai

IMM FTI UAD – Minggu-Kamis (10-14 Desember 2017). Kejuaraan Youth Asian Para Games 2017 di Dubai, Uni Emirate Arab. Tim Indonesia mampu membawa pulang dengan total 16 medali emas, 7 perak, dan 5 perunggu.

Ia bernama Hilmi Azizi, Mahasiswa dari Prodi Teknologi Pangan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta  dan juga salah satu Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Teknologi industri (IMM FTI UAD). Tenis Meja adalah sebuah hobby olahraganya, sejak sekolah menengah dia beberapa kali menjuarai perlombaan Tenis Meja dan sering menjadi delegasi untuk mengikuti perombaan olahraga di cabang olahraga tenis meja. Salah satu kejuaraan yang di pernah ikuti adalah Kejuaraan ITTF (International Table Tennis Federation) Indonesia Open pada tahun 2016. Hobby itu memang asik jika di jalankan dengan hati, kesenangan akan datang dengan sendirinya.

Sebagai Mahasiswa semester satu pada tahun ini, Hilmi Azizi sudah membawa nama baik Indonesia dalam lomba yang dia ikuti di kejuataan AYPG di dubai. Tidak hanya Indonesia, Universitas nya pun ikut dibanggakan olehnya. UAD cukup bangga karna mempunyai seorang Atlit Olahraga yang mengharumkan nama indonesia di kanca Kejuaraan Internasiaonal.

Walaupun tidak meraih medali Emas. Hilmi Azizi sangat bangga karna dia mengharumkan nama Indonesia dengan membawa Perak untuk kelas 9/10 Tunggal putra dan medali Perunggu untuk kelas 9/10 Tim putra beregu.

Pada Asian Youth Paragames di Dubai 2017 ini, Indonesia mampu membawa pulang 16 emas, 7 perak dan 5 perunggu dari berbagai cabang olahraga. Dengan prestasi ini indonesai berada di peringkat ke tujuh dari 30 negara peserta yang mengikui kejuaraan di dubai tahun ini.

Setelah ini para atlet akan dipersiapkan dirinnya untuk seleksi nasional dan pemusatan latian Asian Para Games 2018 yang digelar di solo nanti. Mengingat Indonesia akan mendapatkan kuota 300 orang atlet untuk semua cabang olah raga. Hal ini akan dimanfaatkan oleh pihak Indonesia untuk meraih emas sebanyak-banyaknya.

Alhamdulillah, Di PKM PTM Lombok Kami juaranya

IMM FTI UAD – Pada tanggal 30 Desember 2017, kebahagiaan Luar biasa tepat di Universitas Muhammadiyah Mataram, Lombok. Tim Vernandi meraih JUARA 1 dalam Lomba PKM PTM yang di selenggarakan di UM Mataram lombok.

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan salah satu Program Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (Litabmas). PKM dikembangkan untuk mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang Tinggi.

PKM PTM pun merupakan program kreativitas mahasiswa yang di selenggarakan khusus untuk perguruan tinggi muhammadiyah. Pada tahun ini UMMAT (Universitas Muhammadiyah Mataram) menjadi tuan rumah dimana PKM PTM Ini akan di selenggarakan.

Sempat tertunda penerbangannya menuju lombok dikarenakan dampak dari Erupsi Gunung Agung. Tim Vernandi dan Tim – tim lainnya yang menjadi perwakilan Universitas Ahmad Dahlan akhirnya berangat pada tanggal 29 November 2017 menuju Universitas Muhammadiyah Mataram Lombok. Berangkat menggunakan pesawat Lion Air, Tim vernandi tiba di lombok Dini hari dan mereka menginap di hotel Arum Jaya Lombok.

Tim Vernandi yang beranggotakan Nenti Febi, Syahid dan Vernandi Yusuf yang juga merupakan kader IMM FTI UAD sangat senang dan dengan menjuarai di salah satu bidang dalam lomba PKM PTM ini, mereka ingin memberikan kebanggaan untuk universitas ahmad dahlan tercinta dan mereka akan terus meningkatkan prestasi nya di dalam kampus ataupun di luar kampus.

Ahmad Dahlan di Telinga JIRAN

Oleh : Raifa Tryas Shara

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”, begitulah kalimat yang sempat diutarakannya, kalimat ini amat terkenal di kalangan masyarakat terutama masyarakat Muhammadiyah. Kalimat tersebut menegaskan bahwa berjuang di Muhammadiyah untuk umat tidaklah sekadar mengharap balasan keringat berupa helaian Rupiah karena Muhammadiyah tak pernah berorientasi membuat para pengurusnya kaya akan harta, tetapi Muhammadiyah mengajarkan kekayaan hati untuk meningkatkan kebermanfaatan pada umat yang diharapkan mampu mencapai kekayaan vertikal yang hakiki yaitu ridho-Nya. Cara berpikir beliau memang unik dan kritis, tak heran jika pandangannya mengenai pembaharuan Islam menjadikannya sebagai Pahlawan Nasional.

Tentang sore itu, di beranda masjid yang tengah usai mengumandangkan Azan Magrib. Saat tengah mengikuti kegiatan ifthar (buka puasa) bersama para mahasiswa Universiti Malaysia Pahang, sempat memulai perbincangan dengan salah satu mahasiswi semester akhir yang akan wisuda tahun ini, sampai kepada titik pengutaraan asal Universitas Ahmad Dahlan, ia tertegun sembari menegaskan bahwa Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah, tentang beliau yang bertindak nyata untuk memperbaiki arah kiblat, tentang sesosok Ahmad Dahlan yang menjadi pendiri persyarikatan Muhammadiyah yang apabila ditelaah  Muhammadiyah sudah mampu menjadi suatu negara dengan komponen-komponen yang dimiliki, hanya saja Muhammadiyah tetap menjunjung tinggi Pancasila dan selalu bersiaga untuk bergejolak apabila kemurnian Pancasila mulai terkoyak oleh oknum-oknum tertentu.

Tentang sore di lain sisi, saat tengah mengikuti kegiatan belajar di kelas, masih dengan perkara asal universitas. Universitas Ahmad Dahlan.. Pengajar di kelas saat itu seketika berkata “The founder of Muhammadiyah”, serta tentang sore pada ruang lainnya, setelah selesai berdiskusi, dengan pengajar yang sama ia bertanya “Kapan Ahmad Dahlan dilahirkan? You’re from Universitas Ahmad Dahlan, right?”. Ia begitu tertarik mengenai kisah Ahmad Dahlan dan persyarikatan Islam lainnya di Indonesia.

Tentang sore dan sore yang sempat mengingatkan  kembali kepada sejarah, tentang sosok pendiri “ayah kandung” dari organisasi pengikrar Fastabiqul Khairat. Sudah selayaknya nama Universitas Ahmad Dahlan dicetak tebal dalam pikiran-pikiran pemuda yang meneriakkan diri sebagai aktivis karena Ahmad Dahlan merupakan pendiri Muhammadiyah, maka Universitas Ahmad Dahlan secara universal harus sesuai dengan cita-cita Muhammadiyah, sebab jika tidak hal  itu akan melukai Ahmad Dahlan yang namanya telah terdengar baik di bumi jiran dan mungkin saja masih ada tentang sore lainnya di negeri-negeri jiran atau belahan bumi nan jauh yang mengisahkan tentang sosok pahlawan pemilik nama kecil Muhammad Darwis tersebut.

Seperti Senja yang akan Senantiasa Jingga

Oleh : Zaim Alam Faiz Afi’i

Ikatan itu akan tetap utuh. Awal perjumpaan yang mungkin sampai sekarang kita tidak pernah mengingat betul mengapa kita harus dikumpulkan sedemikian erat. Teringat waktu ketika masih dengan wajah polos menapaki langkah menyadari bahwa diri ini telah menjadi seorang maha untuk kata siswa. Semangat itu muncul, segala hal ia akan ikut. Sampai akhirnya dipertemukan dan dipersatukan oleh insan-insan yang hingga saat ini masih terus berjuang dalam menjadi manusia yang idel di sisi Al-Haq.

Ikatan itu akan tetap utuh. Sadar betul bahwa di sini bukanlah tempat orang-orang yang benar-benar bisa dikatakan baik. Kadang bertanya, mengapa detik ini masih bertahan untuk tetap bersama mereka ? Mereka bukanlah orang yang benar-benar faham tentang ini itu, kadang juga masih terjebak dalam kekhilafan. Juga sering kali masih saling muncul jiwa kekanakan.

Ikatan itu akan tetap utuh. Namun detik demi detik menyadarkan sebuah hal. Ikatan itu tidak selamanya berisikan semua tentang hal yang ideal. Ya, kadang memang masih menemukan sebuah khilaf, namun di sisi lain mereka akan mengingatkan tentang kekhilfan itu. Mengapa masih bertahan di sini ? Semangat mereka dalam berjuang menjadi insan yang diridhoi Allah  itulah yang menjadikan ukhuwah ini masih terjaga.

Ikatan itu akan tetap utuh. Karena warna senja saat petang tiba pun tak pernah berubah. Namun seperti senja, tak selamanya dia ada. Kadang harus rela tertutupkan mendung, kadang harus rela tertutupi hujan.

Ikatan itu akan tetap utuh. Begitu juga dengan sebuah ikatan. Kadang kala harus ikhlas mengalah, sering kali harus dewasa dengan sebuah masalah, namun jiwa itu akan senantiasa merekah. Jiwa sekumpulan insan yang merindukan pertemuan dengan Rabb-Nya.

Ikatan itu akan tetap utuh. Seperti  sekumpulan tetesan hujan. Dia hanya bisa dilihat oleh kesatuannya, tak bisa dilihat satu-satu. Maka inilah tetesan-tetesan hujan itu, lihatlah secara utuh, jika engkau hanya temukan satu tetes hujan maka ingat itu hanya satu sisi dari jutaan hal lain yang akan engkau temui.

IMM FTI punya KANTIN !

Kantin adalah Maha karya di sebuah Ruangan dalam sebuah rumah yang dapat digunakan pengunjungnya untuk makan, baik makanan yang dibawa sendiri maupun yang didapat di sini. Makan disini diartikan menimba ilmu sebanyak-banyaknya ataupun membagi ilmu kepada yang lainnya.

Wisma Damar lagi dan lagi menjadi tempat spesial untuk kader IMM UAD pada umumnya dan kader IMM FTI pada khususnya untuk mencari dan membagi ilmu. Fasilitas untuk upgrade tentang keilmuan baik agama, umum dll kini mereka bisa dapatkan melalui buku yang disediakan di dalam miniatur perpustakaan damar. “Jika dibilang AMM Jogja punya KAMASTUnya di PWM Jogja. Nihh.. IMM FTI UAD punya KANTIN di Wisma DAMARnya”

Kajian Rutin IMM FTI UAD (Kantin IMM FTI) adalah sebuah sarana untuk meningkatkan iman dan taqwa juga pengetahuan tentang ISLAM. Kantin IMM FTI yang dilaksanakan setiap hari Jum’at malam ini dipersembahka untuk seluruh kader IMM FTI UAD. Kali ini Bidang TKK IMM FTI memanfaatkan wisma damar sebagai sharing ilmu melalui KANTIN (Kajian Rutin).

“Siapa yang keluar rumah untuk menuntut ilmu syar’i , maka ia berjihad di jalan Allah hingga ia kembali” (HR At-Tirmidzi)

Memang berat melahkanhkan kaki menuju kebaikan tapi Allah sudah menjanjikan surga untuk kita yang dapat melewati kemalasan untuk melangkahkannya.

“Siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR.Muslim)

Kantin yang diperiode sebelumnya adalah agenda rugin dari LSO Dakwah Media Pena, yang dimana priode ini LSO DMP sendiri sedang diistirahatkan untuk waktu yang belum ditentukan. sehingga agenda rutin ini akan di akuisisi oleh bidang Tabligh IMM FTI. Kedepannya pengisi dari kantin ini adalah teman-teman yang masih dalam strukturan ataupun Demisioner IMM FTI.

“kita akan mengundang demisioner IMM FTI untuk mengisi Kantin ini kedepannya, supaya kader baru bisa mengenali demisioner periode sebelumnya. dan agenda ini juga termasuk untuk mengakrabkan kader IMM FTI lintas generasi”ucap Farah, Ketua Bidang TKK IMM FTI UAD.

Farah menambahkan bahwa hari jum’at ini dikhusukan untuk pengakraban PK dengan kader, karna disini kader bisa bercengkrama denga Pimpinan Komisariat periode ini.

Pada Pekan ke-2 ini KANTIN IMM FTI akan membahas tentang tema lanjutan yaitu “Sudahkah kita benar-benar Mencinta?” (pert 2) yang bibahas oleh IMMawan ZAIM Alam F, Ketua IMM FTI UAD Periode 2017/2018. Minggu lalu pun Zaim sudah membawakan dengan tema yang sama, lalu apa yang membedakan pembahasan kali ini??

Ayo menuntut Ilmu, jangan lupa untuk menghadiri Kajian Rutin (KANTIN) di WISMA DAMAR setiap Hari Jum’at malam pukul 18.00 sampai ISYA. Jangan lupa untuk mengajak teman sekitar anda.

 

IMM FTI UAD gak butuh diskusi !

IMM FTI UAD – Banyak yang mengatakan Mahasiswa merupakan agen perubahan (agant of change), mahasiswa memiliki peranan yang penting dalam menentukan arah dan tujuan dari suatu perubahan. Mahasiswa tanpa diskusi bagaikan perang tanpa membawa senjata. Pertukaran pikiran, gagasan dan pendapat adalah amunisi aktivis dalam berperang.

“Bukanlah seorang aktivis IMM, jika ia tidak pernah melakukan diskusi”

Tidak puas dengan diskusi yang diadakan beberapa bulan lalu yang diselenggarakan oleh bdang hikmah. IMM FTI UAD Ingin menyelenggarakan lagi sebuah diskusi kader yang bertema “Harmonisasi Organisasi dan Akademik”  berawal dari pertayaan besar mahasiswa tentang , lebih enak pintar tapi kupu-kupu atau bodoh tapi organisasi.

“Diskusi ini untuk memberikan pemahaman mengenai bagaimana managemen organisasi dan kuliah serta memotivasi agar berprestasi di tengah sibuknya kuliah dan berorganisasi” ucap Fikri anggota bidang Kader IMM FTI UAD.

Fikri juga menambahkan bahwa “nanti kita dibersamain mbak oty, beliau pernah menjuarai lomba debat nasional semoga beliau dapat memotivasi kader IMM FTI agar selain aktif organisasi juga dapat berprestasi”.

Diskusi yang akan diselenggarana di Lantai 3 masjid Islamic Center UAD Kampus 4 itu akan di mulai pada pukul 19.00 – 21.00. dan akan di bersamain oleh Mbak Hashotya Dwi Lestari, beliau selain pernah Juara 1 lomba debat nasional juga sedang aktif di keorganisasian IMM tingkat KORKOM (Kordinator Komisariat). Keaktifan dalam keorganisasian IMM ini tidak menyurutkan semangat beliau dalam berprestasi dan seharusnya memang seperti itu. Karna dalam IMM tidak mengajarkan kita untuk bodoh dalam akademik tetapi sebaliknya di dalam pengkaderan IMM ini diajarkan untuk kader bisa berprestasi.

Berorganisasi bukan hal yang menghambat seorang mahasiswa untuk tidak beprestasi, banyak Kader IMM yang berprestasi. Selain aktif di IMM mereka dapat berprestasi deperkuliahannya. Seperti Ella Yussy Dwi Astuti, S.s. beliau pernah menjabat sebagai ketua BEM Universitas periode 2015/2016,  beliau juga Lulus dengan predikat mahasiswa Cumlaude, dan pernah menjadi perwakilan UAD menjadi duta besar di Hungaria. Untuk di komisatiat FTI sendiri ada Ihsan, Adhi, Mahmud, Latifah, Nafia dan masih banyak Kader IMM FTI yang berprestasi.

Irsyad Pahlapi Demisioner PK IMM FTI Periode 2015/2016 yang pada hari Jumat 11 November 2017 pekan lalu, pernah menjuarai perlombaan di malaysia yaitu Juara 1 Meraih Gold Medal International Festival Innovation Green Technology Universitas Malaysia pahang di tahun 2016. Dan bulan lalu kader IMM FTI UAD yaitu Raifa Tryas Shara, Bobi Larombia, dan Erni Rahma yang berhasil mendapatkan kemenangan sebagai “Best Performance 1st Runner UP” Pada acara International Day Fiesta di Universitas Malaysia Pahang (UMP). Selain itu masih banyak kader IMM FTI yang berhasil berprestasi di tengah sibuknya kuliah di sertai berorganisasi IMM.

Nah untuk Kita semua kader IMM FTI UAD yuk cari tahu bagaimana memanajemen diri kita ditengah kesibukan kuliah dan organisasi ini agar berprestasi. Jangan lupa hadir dan mempersiapkan berbagai pertanyaan !