Fungsi Pimpinan sebagai Dinamisator Pergerakan

Oleh: IMMawan Wahyuddi
     Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) jika ditinjau dalam aspek kehadirannya, ideologi, maupun arah pergerakannya sangat erat hubungannya dengan Muhammadiyah. IMM sebagai organisasi otonom  yang lahir dari organisasi besar Muhammadiyah mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mewadahi kader-kader muda Muhammadiyah yang  khususnya berada pada lingkup mahasiswa dalam rangka membentuk generasi penerus Persyarikatan (Muhammadiyah), umat dan Bangsa.
Slide1
Sumber gambar: Dokumen PK IMM FTI, diambil di depan Masjid Darunnajah UAD 3
        Dalam rangka mempertahankan eksisistensi serta mempeluas ladang dakwahnya, Muhammadiyah tentu saja membtuhkan sumber daya kader yang sangat banyak yang berasal dari ortom-ortom yang dimilikinya. Oleh karena itu, sebagai salah satu Ortom pengaderan Muhammadiyah, IMM pun harus tetap ikut memberikan sumbangsih yang berarti demi kemajuan persyarikatan Muhammadiyah. Namun dalam kasusnya, pencetakan kader-kader impian dalam internal IMM itu sendiri tak semudah yang dikhayalkan meskipun sudah memiliki garis-garis haluan serta formula yang diracik khusus supaya dapat menghasilkan kader masa depan yang diimpi-impikan. Hal ini terbukti dengan hadirnya berbagai macam misi dan tujuan anggota-anggota baru dalam ranah komisariat yang beragam yang mengisi ruang ikatan dengan berbagai watak dan kepribadian yang berbeda. Guna mempersiapkan generasi terbaik dikepengurusan selanjutnya, seluruh jajaran pimpinan komisariat haruslah secara intensif melakukan pendekatan-pendekatan terhadap kadernya, baik melalui pengaderan formal maupun kultural. Melalui proses inilah, internalisasi ideologi dapat dilakukan. Setelah upaya penanaman pemahaman ideologi dilakukan, barulah kader-kader mulai diajak berpikir bagaimana cara untuk mengorientasikan visi dan misi ikatan secara praktis yang disesuaikan dengan beragam kondisi yang terjadi di sekitar, baik dalam lingkungan kampus (mahasiswa) maupun kondisi yang ada di sekitar masyarakat. Hal ini bisa saja dilakukan dengan terus menerus megembangkan pola pikir terhadap wawasan kader, minat serta bakat yang dimiliki. Dengan terciptanya pola pikir kader yang kritis dan radikal terhadap wawasan yang dimilikinya, barulah nilai-nilai yang mendasari ideologi ikatan dapat secara masiv  diaplikasikan dalam bentuk tindakan nyata.
         Siklus pengaderan inilah yang akan secara terus-menerus terjadi di ranah komisariat. Oleh karena itu, agar tahapan-tahapan pengaderan yang secara teknis dilalui komisariat tidak serta merta monoton, maka peran pimpinan komisariatlah yang menjadi juru kunci keberhasilan dalam mencetak kader-kader impian guna meneruskan perjuangan Muhammadiyah dalam mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya.